![]() |
| Dr. Ipong Hembing Putra Ketua Umum PITI saat menyampaikan renungan keislaman. ( Foto : 1st — info kota sekayu ) |
JAKARTA ( INFO KOTA SEKAYU )
Di tengah era digital yang sarat pencitraan diri, penyakit hati seperti riya’ dan ujub kian menjadi tantangan serius bagi keikhlasan beribadah. Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Dr. Ipong Hembing Putra, mengingatkan umat agar mewaspadai maksiat hati yang secara halus dapat merusak nilai ibadah.
Hal tersebut disampaikan Dr. Ipong dengan mengutip pandangan Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani dalam kitab Sullamut Taufiq, yang menjelaskan 10 jenis maksiat hati sebagai racun batin yang dapat melebur pahala amal, meski secara lahiriah tampak sebagai kebaikan.
“Banyak ibadah terlihat baik di luar, tetapi rusak di dalam hati. Inilah yang sering luput disadari, terutama di zaman media sosial,” ujar Dr. Ipong, Kamis (5/2/2026).
Adapun 10 maksiat hati yang perlu diwaspadai sebagaimana dijelaskan dalam kitab tersebut, antara lain:
Pertama, riya’ dalam amal, yakni melakukan ibadah demi pujian manusia, yang dapat menghapus pahala.
Ketiga, meragukan kesempurnaan Allah, termasuk merasa aman dari murka-Nya meski bergelimang dosa atau sebaliknya berputus asa dari rahmat-Nya.
Keempat, takabur, yaitu menolak kebenaran, merendahkan orang lain, dan merasa lebih mulia.
Kelima, hiqdu atau dendam tersembunyi, menyimpan permusuhan dan keinginan membalas.
Keenam, hasud (iri hati), membenci nikmat yang dimiliki orang lain dan berharap nikmat itu hilang.
Ketujuh, menyebut-nyebut sedekah, mengungkit kebaikan kepada penerima hingga melebur pahala.
Kedelapan, buruk sangka, baik kepada Allah, orang mukmin yang saleh, maupun terhadap ketentuan takdir.
Kesembilan, bergembira atas maksiat, baik terhadap dosa sendiri maupun orang lain, termasuk mengingkari janji.
Kesepuluh, bakhl dan kikir, enggan menunaikan zakat, tamak terhadap harta orang lain, serta meremehkan perkara suci.
Menurut Dr. Ipong, pemahaman tentang maksiat hati ini sangat relevan bagi masyarakat urban yang hidup di tengah budaya pamer dan validasi sosial.
“Maksiat hati mengajarkan kita untuk terus introspeksi. Jangan sampai ibadah hanya menjadi rutinitas kosong yang kehilangan nilai keikhlasan,” tegasnya.
Ia berharap renungan ini dapat menjadi pengingat agar umat senantiasa membersihkan hati, memperbaiki niat, serta menjadikan ibadah sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar pencitraan.
(Rilis DPP PWO Dwipapantara — Info Kota Sekayu)

Post a Comment for "Ketum PITI Dr. Ipong Hembing Putra Paparkan 10 Maksiat Hati yang Merusak Ibadah, Relevan untuk Renungan Zaman Digital"
Silakan tuliskan komentar Anda dengan sopan dan bertanggung jawab.
Komentar yang mengandung unsur SARA, ujaran kebencian, hoaks, spam, promosi, atau bahasa tidak pantas tidak akan ditampilkan.
Redaksi infokotasekayu.com berhak menyunting atau menghapus komentar demi menjaga kualitas diskusi dan mematuhi kode etik jurnalistik.
Terima kasih atas partisipasi Anda.