DENPASAR ( INFO KOTA SEKAYU )
Gubernur Bali, I Wayan Koster, menerima kunjungan kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen DPR RI di Gedung Kerta Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (19/6/2026).
Kunjungan tersebut dipimpin Wakil Ketua BKSAP DPR RI, Bramantyo Suwondo, bersama Wakil Ketua BKSAP, Irine Yusiana Roba Putri. Pertemuan mengangkat tema “Diplomasi Parlemen untuk Transformasi Bali Menuju Destinasi Pariwisata Berkelanjutan, Berkualitas, dan Berdaya Saing Global.”
Dalam paparannya, Koster menjelaskan kondisi pariwisata dan perekonomian Bali pascapandemi Covid-19. Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2020 perekonomian Bali mengalami kontraksi hingga minus 9,3 persen akibat lumpuhnya sektor pariwisata yang selama ini menyumbang lebih dari 60 persen perekonomian daerah.
“Bali dua tahun benar-benar menderita karena wisatawan hampir tidak ada. Tahun 2021 sehari hanya sekitar 500 wisatawan asing yang datang, padahal biasanya puluhan ribu orang,” ujar Koster.
Menurutnya, pemulihan ekonomi Bali berlangsung secara bertahap. Pada tahun 2021 ekonomi Bali masih mengalami kontraksi sebesar minus 2,46 persen. Namun, kondisi mulai membaik pada tahun 2022 dan terus menunjukkan tren positif hingga mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,82 persen pada tahun 2025.
Koster menyebut jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali sepanjang 2025 mencapai sekitar 7,05 juta orang. Sementara wisatawan domestik tercatat sekitar 9,2 juta orang, sehingga total kunjungan wisatawan mencapai sekitar 16,3 juta orang.
Jumlah tersebut jauh melampaui jumlah penduduk Bali yang berkisar 4,4 juta jiwa.
Ia menjelaskan rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara selama berada di Bali mencapai 1.522 dolar Amerika Serikat per kunjungan. Dengan angka tersebut, perputaran ekonomi dari wisatawan asing diperkirakan mencapai sekitar Rp176 triliun.
“Kontribusi wisatawan mancanegara Bali terhadap kunjungan nasional mencapai sekitar 45,8 persen. Ini menunjukkan betapa strategisnya Bali bagi sektor pariwisata Indonesia,” tegasnya.
Koster menilai sektor pariwisata memiliki dampak ekonomi yang lebih merata dibanding sektor ekstraktif seperti pertambangan, minyak, maupun batu bara. Sebab, aktivitas pariwisata menggerakkan berbagai sektor usaha mulai dari hotel, restoran, transportasi, UMKM hingga jasa lainnya.
Dampak positif tersebut juga terlihat dari sejumlah indikator pembangunan daerah. Tingkat kemiskinan Bali tercatat sebesar 3,42 persen, tingkat pengangguran 1,45 persen, dan prevalensi stunting sekitar 8,7 persen.
Meski demikian, tingginya aktivitas pariwisata juga menghadirkan sejumlah tantangan, seperti persoalan sampah, kemacetan lalu lintas, tekanan terhadap lingkungan hidup, keterbatasan air bersih, hingga berbagai pelanggaran yang dilakukan sebagian warga negara asing.
Menanggapi hal tersebut, Koster menegaskan Pemerintah Provinsi Bali telah mengambil langkah tegas terhadap berbagai aktivitas ilegal yang dilakukan warga negara asing, termasuk penyalahgunaan investasi, bisnis tanpa izin, akomodasi ilegal, hingga pelanggaran keimigrasian.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Polda, Kejaksaan, Imigrasi, dan kementerian terkait. Yang melanggar aturan langsung ditindak, termasuk deportasi bagi warga negara asing yang melakukan pelanggaran,” tegasnya.
Selain itu, Pemprov Bali juga terus melakukan penertiban terhadap berbagai usaha wisata dan akomodasi yang dipasarkan melalui platform digital tanpa izin resmi maupun kewajiban perpajakan.
Dalam bidang pariwisata, Koster menegaskan Bali saat ini diarahkan menuju konsep pariwisata berbasis budaya yang berkualitas dan bermartabat. Ia menolak model pariwisata massal yang berpotensi merusak identitas budaya dan nilai-nilai lokal masyarakat Bali.
“Kita ingin wisatawan yang datang menghormati budaya Bali. Jangan sampai pariwisata berkembang tetapi merendahkan martabat dan citra Bali,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan lingkungan, Pemerintah Provinsi Bali juga tengah mempercepat pembangunan sistem pengelolaan sampah terpadu. Salah satu proyek strategis yang sedang dipersiapkan adalah fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy) dengan kapasitas sekitar 1.200 ton sampah per hari.
Koster optimistis persoalan sampah di Bali dapat ditangani secara signifikan pada tahun 2028. Selain itu, pemerintah pusat juga disebut memberikan dukungan pembangunan infrastruktur transportasi guna mengurangi kemacetan yang selama ini menjadi tantangan di sejumlah kawasan wisata.
Sementara itu, Bramantyo Suwondo menyatakan pihaknya siap mendukung transformasi pariwisata Bali melalui diplomasi parlemen di berbagai forum internasional.
Menurutnya, Bali merupakan etalase Indonesia di mata dunia sehingga keberhasilan Bali dalam membangun pariwisata berkelanjutan juga menjadi keberhasilan Indonesia secara nasional.
“Kontribusi Bali terhadap devisa dan perekonomian nasional sangat besar. Karena itu diplomasi parlemen harus bisa memberi dampak nyata, termasuk membantu promosi pariwisata Bali di tingkat internasional,” katanya.
Ia menjelaskan BKSAP DPR RI memiliki jaringan kerja sama bilateral dengan 102 negara yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas promosi pariwisata Bali kepada wisatawan berkualitas dari berbagai kawasan dunia, termasuk Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Latin.
Bramantyo juga mendukung konsep pariwisata berkualitas yang diterapkan Pemerintah Provinsi Bali. Menurutnya, peningkatan jumlah wisatawan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
“Yang lebih penting adalah bagaimana kunjungan wisatawan mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan dan budaya. Bali memiliki keunikan yang tidak dimiliki destinasi lain. Nilai budaya dan kearifan lokal inilah yang harus terus dijaga sebagai kekuatan utama pariwisata Bali,” pungkasnya.
(Gunawan Wibisono — Info Kota Sekayu)

Post a Comment for "Gubernur Bali I Wayan Koster Paparkan Masa Depan Pariwisata Berkelanjutan di Hadapan BKSAP DPR RI"
Silakan tuliskan komentar Anda dengan sopan dan bertanggung jawab.
Komentar yang mengandung unsur SARA, ujaran kebencian, hoaks, spam, promosi, atau bahasa tidak pantas tidak akan ditampilkan.
Redaksi infokotasekayu.com berhak menyunting atau menghapus komentar demi menjaga kualitas diskusi dan mematuhi kode etik jurnalistik.
Terima kasih atas partisipasi Anda.