MUSI BANYUASIN ( INFO KOTA SEKAYU )
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, satu sosok sering kali luput dari sorotan emosional: ayah. Ia jarang dipuji, jarang dirayakan secara berlebihan, bahkan sering kali dianggap sebagai figur yang “memang sudah seharusnya bertanggung jawab”.
Namun di balik ketegasan wajahnya, tersembunyi cinta yang paling sunyi — kasih seorang ayah kepada anaknya.
Jika kasih ibu identik dengan pelukan hangat dan kata-kata lembut, maka kasih ayah sering hadir dalam bentuk yang berbeda. Ia tidak banyak bicara, tidak pandai menunjukkan perasaan, tetapi setiap tindakannya adalah wujud tanggung jawab yang tak pernah berhenti.
Ayah mungkin tidak selalu mengatakan, “Ayah bangga padamu.”
Namun ia bekerja lebih keras ketika anaknya mulai bermimpi besar.
Tetapi ia memastikan rumah tetap berdiri kokoh agar anaknya merasa aman.
Dalam realitas sosial Indonesia, ayah sering menjadi tulang punggung keluarga. Ia memikul beban ekonomi, tekanan pekerjaan, dan tanggung jawab moral tanpa banyak ruang untuk mengeluh. Bahkan ketika kondisi sulit menghimpit, ia memilih diam — karena baginya, anak tidak boleh ikut merasakan kecemasan itu.
Banyak anak tumbuh dengan persepsi bahwa ayah adalah sosok keras dan penuh aturan. Padahal di balik ketegasan itu, ada kekhawatiran yang tak pernah ia ucapkan.
Ketika ayah melarang, ia sedang melindungi.
Ketika ayah menegur, ia sedang mengarahkan.
Ketika ayah terlihat marah, sering kali itu adalah bentuk kepedulian yang tidak tersampaikan dengan bahasa lembut.
Kasih ayah bukan tentang ekspresi, tetapi tentang komitmen.
Ia rela dianggap galak, asalkan anaknya tumbuh dalam batas yang benar.
Ia rela tidak dipahami, asalkan masa depan anaknya lebih baik dari kehidupannya hari ini.
Ada ayah yang pulang larut malam dengan tubuh lelah.
Ada ayah yang tetap berangkat kerja meski sedang sakit.
Ada ayah yang menunda membeli kebutuhannya sendiri demi membayar biaya sekolah anaknya.
Semua itu dilakukan tanpa publikasi, tanpa pujian, tanpa permintaan balas jasa.
Sering kali, kita baru menyadari betapa besar cinta itu ketika rambutnya mulai memutih. Ketika langkahnya tidak lagi tegap. Ketika suaranya tak lagi lantang seperti dulu.
Pada saat itulah kita memahami bahwa selama ini ada doa yang tak pernah putus menyertai setiap langkah kita.
Lebih dari sekadar pencari nafkah, ayah adalah guru kehidupan pertama bagi banyak anak. Dari ayah, kita belajar tentang kerja keras, integritas, tanggung jawab, dan keteguhan dalam menghadapi masalah.
Ayah mengajarkan bahwa hidup tidak selalu mudah.
Bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya.
Bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi selalu bangkit.
Kasih ayah adalah warisan nilai — bukan sekadar materi.
Dalam budaya kita, sering kali ungkapan cinta kepada ayah terasa canggung. Telepon yang tak jadi dilakukan. Pesan yang tertunda dikirim. Pelukan yang tak sempat diberikan.
Padahal, waktu tidak pernah menunggu.
Ada saat di mana kita berharap bisa kembali mendengar nasihatnya.
Ada saat di mana kita rindu tegurannya.
Ada saat di mana kita baru benar-benar memahami bahwa ia mencintai kita dengan cara yang tidak pernah kita sadari.
Kasih seorang ayah mungkin tidak selalu terdengar lantang.
Namun ia selalu hadir — dalam diam, dalam doa, dalam kerja keras, dan dalam setiap pengorbanan yang tak pernah ia hitung.
Cinta ayah tidak mencari panggung.
Ia hanya ingin melihat anaknya berdiri lebih tinggi dari dirinya.
Dan ketika kita kelak berada di posisi yang sama, menjadi orang tua bagi anak-anak kita, barulah kita benar-benar mengerti:
Menjadi ayah adalah tentang belajar kuat, bahkan ketika hati ingin runtuh.

Post a Comment for "Kasih Ayah yang Tak Pernah Meminta Balas: Cinta Dalam Diam yang Sering Terlupakan"
Silakan tuliskan komentar Anda dengan sopan dan bertanggung jawab.
Komentar yang mengandung unsur SARA, ujaran kebencian, hoaks, spam, promosi, atau bahasa tidak pantas tidak akan ditampilkan.
Redaksi infokotasekayu.com berhak menyunting atau menghapus komentar demi menjaga kualitas diskusi dan mematuhi kode etik jurnalistik.
Terima kasih atas partisipasi Anda.