Menjadi Wartawan: Menjaga Nurani di Tengah Derasnya Informasi

Pijai Sandip Kumar C.BJ.
Pijai Sandip Kumar, C.BJ. ( Foto : 1st — info kota sekayu )

Oleh Pijai Sandip Kumar C.BJ, menyuarakan opini tentang peran wartawan sebagai pilar demokrasi

MUSI BANYUASIN ( INFO KOTA SEKAYU )

Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya perubahan zaman, profesi wartawan tetap memegang peran yang tak tergantikan. Wartawan bukan sekadar pencatat peristiwa, melainkan penjaga nurani publik—menghubungkan fakta dengan kepentingan masyarakat luas.

Di lapangan, wartawan sering dihadapkan pada dilema: tekanan waktu, kepentingan tertentu, hingga risiko personal. Namun justru di situlah integritas diuji. Keberanian untuk tetap berpihak pada kebenaran, meski tidak populer atau penuh tantangan, adalah napas utama jurnalisme yang bermartabat.

Wartawan sejati tidak bekerja untuk sensasi, melainkan untuk akurasi. Tidak menulis untuk menyenangkan, tetapi untuk mencerahkan. Setiap berita yang disajikan bukan hanya soal siapa dan apa, melainkan juga tentang dampaknya bagi masyarakat. Karena satu informasi yang benar dapat membuka mata banyak orang, sementara satu kekeliruan bisa menyesatkan kepercayaan publik.

Di era digital, ketika siapa pun bisa menjadi “pembuat konten”, wartawan dituntut lebih dari sekadar cepat. Ia harus cermat, berimbang, dan bertanggung jawab. Kode etik bukan sekadar aturan, tetapi kompas moral agar jurnalisme tetap berada di jalurnya.

Maka, menjaga semangat adalah keharusan. Terus belajar, terus turun ke lapangan, dan terus mendengar suara masyarakat—terutama mereka yang sering tak terdengar. Di sanalah jurnalisme menemukan maknanya.

Karena pada akhirnya, wartawan bukan hanya pelapor peristiwa. Wartawan adalah pilar demokrasi, suara kebenaran, dan saksi zaman yang bertugas memastikan bahwa fakta tidak pernah dikalahkan oleh kepentingan.
Redaksi
Redaksi INFO KOTA SEKAYU

Posting Komentar untuk "Menjadi Wartawan: Menjaga Nurani di Tengah Derasnya Informasi"