Perjuangan Sunyi Seorang Suami yang Jarang Terlihat

Pijai Sandip Kumar, C.BJ
Pijai Sandip Kumar, C.BJ. ( Foto : 1st — info kota sekayu )

Oleh: Pijai Sandip Kumar, C.BJ

MUSI BANYUASIN ( INFO KOTA SEKAYU )

Di balik kokohnya sebuah keluarga, ada sosok yang sering berjalan dalam diam. Ia jarang mengeluh, jarang bercerita, dan hampir tak pernah menunjukkan air mata di hadapan orang-orang terdekatnya. Dialah seorang suami.

Di era media sosial yang gemar menampilkan kemewahan, romantisme instan, serta pencapaian material, perjuangan seorang suami sering kali tidak memiliki ruang untuk dipamerkan. Tidak ada unggahan tentang kecemasan yang ia pendam. Tidak ada status tentang tekanan ketika kebutuhan rumah tangga datang bersamaan. Tidak ada sorotan kamera saat ia memutar otak mencari solusi dari kesulitan ekonomi.

Perjuangan seorang suami bukanlah tontonan. Ia adalah proses sunyi yang berlangsung setiap hari.

Menjadi suami bukan sekadar status dalam kartu keluarga. Ia adalah amanah. Ia adalah komitmen untuk berdiri di garis depan ketika badai menghantam rumah tangga.

Seorang suami memikul dua beban sekaligus: tanggung jawab dan harga diri. Ia dituntut mencukupi kebutuhan lahir, sekaligus menjaga wibawa sebagai kepala keluarga. Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, tekanan itu bisa berlipat ganda.

Ada malam-malam ketika ia terjaga lebih lama dari biasanya. Menghitung sisa tabungan. Mengukur jarak antara penghasilan dan kebutuhan. Bertanya dalam hati, apakah ia sudah cukup menjadi suami yang layak.


Media sosial kerap menggambarkan suami ideal sebagai sosok romantis dengan kejutan bunga dan kalimat manis. Padahal dalam kenyataan, cinta seorang suami sering hadir dalam bentuk yang berbeda.

Ia mungkin tidak pandai merangkai kata-kata indah, tetapi ia memastikan dapur tetap mengepul. Ia mungkin jarang mengunggah foto kebersamaan, tetapi ia bekerja keras agar masa depan keluarga tidak suram.

Cinta seorang suami tidak selalu terlihat di layar ponsel.
Ia lebih sering terlihat di slip gaji, di peluh yang mengering di baju kerja, serta di keputusan-keputusan sulit yang ia ambil demi kestabilan rumah tangga.

Tidak semua orang memahami bahwa seorang suami juga bisa merasa takut. Takut gagal. Takut tidak mampu memenuhi harapan. Takut mengecewakan istri dan anak-anaknya.

Namun budaya sering membentuk persepsi bahwa laki-laki harus selalu kuat, selalu tegar, selalu punya solusi. Akibatnya, banyak suami memilih diam. Mereka menyimpan beban sendirian. Mereka tersenyum di depan keluarga, meski di dalam hati sedang bergulat dengan kekhawatiran.

Perjuangan ini jarang menjadi bahan perbincangan. Ia tidak viral. Ia tidak trending. Tetapi ia nyata.

Menjadi suami bukan tentang siapa yang paling sempurna, melainkan siapa yang paling bertahan. Bertahan dalam proses panjang membangun rumah tangga. Bertahan dalam perbedaan karakter. Bertahan dalam ujian ekonomi. Bertahan dalam kesalahpahaman.

Seorang suami yang berjuang mungkin tidak selalu menang dalam setiap konflik. Namun ia belajar. Ia memperbaiki diri. Ia menahan ego demi menjaga keutuhan keluarga.

Karena baginya, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat di mana orang-orang yang ia cintai merasa aman.

Barangkali sudah saatnya kita melihat perjuangan seorang suami dengan lebih jernih—tidak hanya menilai dari hasil, tetapi juga dari proses. Tidak hanya mengukur dari jumlah materi, tetapi dari konsistensi tanggung jawab.

Sebab pada akhirnya, seorang suami yang terus berusaha, meski dengan segala keterbatasannya, adalah sosok yang layak dihargai.

Perjuangan seorang suami mungkin tidak pernah terbit di media sosial.
Tidak pernah menjadi berita utama.
Tidak pernah mendapat ribuan tanda suka.

Namun di dalam rumahnya sendiri, ia adalah pahlawan yang bekerja tanpa panggung.

Dan sering kali, ketika semua orang terlelap, ia masih terjaga—memikirkan esok hari, agar keluarganya tetap bisa tersenyum.
Redaksi
Redaksi INFO KOTA SEKAYU

Post a Comment for "Perjuangan Sunyi Seorang Suami yang Jarang Terlihat"