Puasa 2026 Tanpa Ayah: Rindu yang Menggema di Setiap Adzan Magrib

Pijai Sandip Kumar, C.BJ.
Pijai Sandip Kumar, C.BJ. ( Foto : 1st — info kota sekayu )

Oleh: Pijai Sandip Kumar, C.BJ

MUSI BANYUASIN ( INFO KOTA SEKAYU )

Ada ruang yang kosong. Ada suara yang tak lagi terdengar. Ada sosok yang biasanya duduk di ujung meja makan, kini hanya hadir dalam kenangan.

Kamis, 19 Februari 2026, Ramadan akan kembali menyapa. Namun kali ini, ia datang tanpa kehadiran ayah.

Biasanya, ayah yang paling awal membangunkan sahur. Suaranya pelan tapi tegas. Ketukannya di pintu kamar sederhana, namun penuh perhatian. Kini, tak ada lagi suara itu. Alarm berbunyi, tetapi rasanya tak sama.

Meja makan masih terhidang. Doa masih terucap. Tetapi ada satu kursi yang terasa lebih sunyi dari biasanya.

Bagi banyak anak, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah tentang kebersamaan. Tentang tadarus bersama. Tentang berbuka dengan sederhana namun penuh syukur.

Ayah mungkin tidak banyak bicara tentang agama. Tetapi dari sikapnya, kita belajar makna kesabaran. Dari kerjanya, kita belajar arti tanggung jawab. Dari diamnya, kita belajar tentang keikhlasan.

Kini, ketika Ramadan datang tanpa dirinya, barulah terasa betapa besar perannya dalam setiap kenangan bulan suci.

Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika adzan Magrib berkumandang nanti. Dulu, ayah yang memimpin doa berbuka. Dulu, ia yang memastikan semua sudah duduk sebelum menyentuh makanan.

Sekarang, doa itu tetap dibaca. Namun di sela-selanya, ada rindu yang menyesakkan dada.

Rindu pada nasihatnya.
Rindu pada candanya.
Rindu pada tatapan bangganya yang sederhana.

Puasa kali ini bukan hanya tentang menahan lapar. Ia juga tentang menahan air mata yang tiba-tiba jatuh ketika mengingat kenangan bersama ayah.

Ramadan selalu mengajarkan tentang keikhlasan. Tentang menerima takdir. Tentang memahami bahwa setiap yang hidup pasti akan kembali.

Mungkin inilah ujian puasa tahun ini: belajar ikhlas tanpa kehadiran sosok yang selama ini menjadi penopang.

Ayah memang telah tiada, tetapi nilai-nilai yang ia tanamkan tetap hidup. Kerja kerasnya menjadi teladan. Doanya menjadi penjaga langkah. Didikannya menjadi cahaya dalam mengambil keputusan.

Kepergian ayah bukan akhir dari kasihnya.
Cintanya tetap ada, hanya wujudnya yang berbeda.

Puasa 2026 ini akan menjadi Ramadan pertama — atau mungkin Ramadan kesekian — tanpa ayah di sisi. Tetapi justru di sinilah makna doa terasa lebih dalam.

Setiap sujud menjadi lebih panjang.
Setiap doa menjadi lebih lirih.
Setiap malam terasa lebih hening.

Ada satu nama yang terus disebut dalam doa: ayah.

Semoga Allah melapangkan kuburnya.
Semoga segala amal ibadahnya diterima.
Semoga setiap kebaikan yang pernah ia lakukan menjadi cahaya di alam sana.

Ramadan tahun ini mengajarkan bahwa kehilangan tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah bentuk menjadi rindu yang lebih tenang.

Dan mungkin, di setiap adzan Magrib yang kita dengar, ada doa ayah yang dulu pernah ia panjatkan untuk kita — yang masih terus mengalir hingga hari ini.

Puasa 2026 tanpa ayah memang terasa berbeda.
Namun cinta dan ajarannya tetap menjadi bekal menjalani bulan suci ini.

Karena sejatinya, ayah tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hidup dalam doa-doa anaknya.
Redaksi
Redaksi INFO KOTA SEKAYU

Post a Comment for "Puasa 2026 Tanpa Ayah: Rindu yang Menggema di Setiap Adzan Magrib"